TUGAS SEJARAH
INDONESIA
Kehidupan Pada Masa
Kerajaan Kalijangga dan Kerajaan Sriwijaya
Disusun Oleh :
Nama : Abiyyu Hilmy
Abdurrahman
No : 02
Kelas : X MIA 3
SMA N 1 WONOSARI
Jl. Brigjen Katamso
No. 4 Wonosari, Gunungkidul
Tahun Ajaran 2013/2014
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas segala rahmat dan
karunia Tuhan Allah Yang Maha Esa, yang telah memberi berkat dan rahmat – Nya penulis dapat
menyelesaikan Makalah Tugas Sejarah
Indonesia ini tanpa ada halangan suatu apapun. Tiada dipungkiri dan dilupakan bahwa
sebenarnyalah hanya Tuhan Allah sumber ilmu dan pengetahuan sejati, di mana
dari situlah manusia membangun rasa, karsa, dan cipta.
Tugas ini berisikan tentang
informasi pengertian atau yang lebih khususnya membahas proses kehidupan pada
masa Kerajaan Kalingga dan Kerajaan Sriwijaya. Tugas ini saya
susun secara sistematis dan praktis. Saya telah berusaha semaksimal mungkin
untuk menyajikan data-data yang saya peroleh dari berbagai sumber.
Tidak terlalu berlebihan bila di sini
saya dengan tulus hati menyampaikan rasa terimakasih atas segala budi baik yang
telah saya terima.
Dalam punyusunan makalah ini saya menyadari
banyak kekurangan baik dari segi materi, teknik penyampaian, penyusunan dan
pencetakannya. Oleh sebab itu saya sebagai penulis mengharap kritik dan saran
yang membangun bagi diri penulis guna perbaikan lebih lanjut.
Akhir kata saya mengucapkan banyak
terima kasih dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
Penyusun
Abiyyu Hilmy Abdurrahman
BAB I
PENDAHULUAN
·
Latar
Belakang
Letak Kerajaan
Kaling atau Holing,
diperkirakan di Jawa Tengah. Nama Kaling berasal dari Kalingga, nama sebuah
kerajaan di India Selatan. Sumbernya adalah berita Cina yang menyebutkan bahwa
kotanya dikelilingi dengan pagar kayu, rajanya beristana di rumah yang
bertingkat, yang ditutup dengan atap, Orang-orangnya sudah pandai tulis-menulis
dan mengenal juga ilmu perbintangan.
Kalingga atau Ho-ling (sebutan
dari sumber Tiongkok) adalah sebuah kerajaan bercorak Hindu yang muncul di Jawa
Tengah sekitar abad ke-6 masehi. Letak pusat kerajaan ini belumlah jelas,
kemungkinan berada di suatu tempat antara Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten
Jepara sekarang. Sumber sejarah kerajaan ini masih belum jelas dan kabur,
kebanyakan diperoleh dari sumber catatan China, tradisi kisah setempat, dan
naskah Carita Parahyangan yang disusun berabad-abad kemudian pada abad ke-16
menyinggung secara singkat mengenai Ratu Shima dan kaitannya dengan Kerajaan
Galuh. Kalingga telah ada pada abad ke-6 Masehi dan keberadaannya diketahui
dari sumber-sumber Tiongkok. Kerajaan ini pernah diperintah oleh Ratu Shima,
yang dikenal memiliki peraturan barang siapa yang mencuri, akan dipotong
tangannya.
Yang sangat tampak bagi
orang Cina ialah orang Kaling (Jawa), kalau makan tidak memakai0020sendok atau
garpu, melainkan dengan jarinya saja. Minuman kerasnya yang dibikin ialah air
yang disadap dari tandan bunga kelapa (tuak).
Diberitakan pula bahwa
dalam tahun 640 atau 648 M kerajaan Jawa mengirim utusan ke Cina. Pada tahun
666 M, dikatakan bahwa tanah Jawa diperintah oleh seorang raja perempuan yakni
dalam tahun 674 – 675 M, orang-orang Holing atau Kaling (Jawa) menobatkan raja
perempuan yang bernama Simo, dan memegang pemerintahannya dengan tegas dan
bijaksana.
Sedangkan Kerajaan Sriwijaya Sriwijaya (atau juga disebut Srivijaya;
Thai: ศรีวิชัย atau "Ṣ̄ rī wichạy") adalah salah satu
kemaharajaan bahari yang pernah berdiri di pulau Sumatera dan banyak memberi
pengaruh di NusantaraLetak Kerajaan dengan daerah kekuasaan membentang dari
Kamboja, Thailand Selatan, Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa, dan pesisir
Sumber Kalimantan. Dalam bahasa Sanskerta, sri berarti "bercahaya"
atau "gemilang", dan wijaya berarti "kemenangan" atau
"kejayaan",maka nama Sriwijaya bermakna "kemenangan yang
gilang-gemilang". BuktiKehidupan Politik awal mengenai keberadaan kerajaan
ini berasal dari abad ke-7; seorang pendeta Tiongkok, I Tsing, menulis bahwa ia
mengunjungi Sriwijaya tahun 671 dan tinggal selama 6 bulan.Selanjutnya
prasastiKeadaan Sosial Ekonomi paling tua mengenai Sriwijaya juga berada pada
abad ke-7, yang yaitu prasasti Kedukan Bukit di Palembang, bertarikh
682.Kemunduran pengaruh Sriwijaya terhadap daerah bawahannyaKebudayaan mulai
menyusut dikarenakan beberapa peperangan di antaranya serangan dari raja
Dharmawangsa Teguh dari Jawa pada tahun 990, dan tahun 1025 serangan Rajendra
Chola I dari Koromandel,Keruntuhan Sriwijaya selanjutnya tahun 1183 kekuasaan
Sriwijaya di bawah kendali kerajaan Dharmasraya
·
Rumusan
Masalah
1. Bagaimana
kehidupan pada masa Kerajaan Kalingga dan Kerajaan Sriwijaya?
2. Apa
hikmah yang dapat kita pelajari dari belajar kehidupan pada masa Kerajaan
Kalingga dan Kerajaan Sriwijaya?
·
Tujuan
1.
Untuk
membantu mempermudah pembelajaran, serta melengkapi pematerian
2. Kita bisa mengenal dan mengetahui sejarah Kerajaan
Kalingga dan Kerajaan Sriwijaya
3. Dapat mengetahui kehidupan pada masa Kerajaan Kalingga
dan Kerajaan Sriwijaya
4.
Tugas
Sejarah Indonesia
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Kerajaan
Kalingga
·
Kehidupan Politik
Pada abad VII Masehi Kerajaan Kalingga pernah dipimpin seorang
ratu bernama Sima. Ratu Sima menjalankan pemerintahan dengan tegas, keras,
adil, dan bijaksana. Ia melarang rakyatnya untuk menyentuh dan mengambil barang
bukan milik mereka yang tercecer di jalan. Bagi siapapun yang melanggar akan mendapat
hukuman berat. Hukum di Kalingga dapat ditegakkan dengan baik. Rakyat taat terhadap
peraturan yang dibuat ratu mereka. Oleh karena itu, ketertiban dan ketentraman
di Kalingga berjalan baik.
Menurut naskah Carita Parahyangan, Ratu Sima memiliki cucu bernama
Sahana yang menikah dengan Raja Brantasenawa dari Kerajaan Galuh. Sahana memiliki
anak bernama Sanjaya yang kelak menjadi Dinasti Sanjaya. Sepeninggalan Ratu Sima,
Kerajaan Kalingga ditaklukan oleh Kerajaan Sriwijaya.
·
Kehidupan Ekonomi
Kerajaan Kalingga mengembangkan perekonomian
perdagangan dan pertanian. Letaknya yang dekatdengan pesisir utara Jawa Tengah
menyebabkan Kalingga mudah diakses oleh para pedagang dari luar negeri. Kalingga
merupakan daerah penghasil kulit penyu, emas, perak, cula badak, dan gading sebagai
barang dagangan. Sementara wilayah pedalaman yang subur, dimanfaatkan penduduk untuk
mengembangkan pertanian. Hasil-hasil pertanian yang diperdagangkan antara lain beras
dan minuman. Penduduk Kalingga dikenal pandai membuat minuman berasal dari bunga
kelapa dan bunga aren. Minuman tesebut memiliki rasa manis dan dapat memabukkan.
Dari hasil perdagangan dan pertanian tersebut, penduduk Kalingga hidup makmur.
·
Kehidupan Agama
Kerajaan Kalingga merupakan pusat agama Buddha di Jawa.Agama
Buddha yang berkembang di Kalingga merupakan ajaran Buddha Hinayana. Pada tahun
664 seseorang pendeta Buddha dari Cina bernama Hwi-ning berkunjung ke Kalingga.
Ia datang untuk menerjemahkan sebuah naskah terkenal agama Buddha Hinayana dari
bahasa Sanskerta dalam bahasa Cina. Usaha Hwing-ning dibantu oleh seorang pendeta
Buddha dari Jawa bernama Jnanabadra.
·
Kehidupan Sosial dan Budaya
Penduduk Kalingga hidup dengan teratur. Ketertiban dan ketentraman
sosial di Kalingga dapat berjalan dengan baik berkat kepemimpinan Ratu Sima
yang tegas dan bijaksana dalam menjalankan hukum dan pemerintahan. Dalam menegakkan
hukum Ratu Sima tidak membedakan antara rakyat dengan anggota kerabatnya sendiri.
Berita tentang ketegasan hukum Ratu Sima pernah didengar oleh
Raja Ta-Shih. Ta-Shih adalah sebutan Cina untuk kaum muslim Arab dan Persia.
Raja Ta-Shih kemudian menguji kebenaran berita tersebut. Ia memerintahkan anak buahnya
untuk meletakkan satu kantong emas di jalan
wilayah Kerajaan Ratu Sima. Selama tiga tahun kantong itu dibiarkan tergeletak
di jalan dan tidak seorangpun berani menyentuh. Setiap orang melewati kantong emas
tersebut berusaha menyingkir.
2.
Kerajaan
Sriwijaya
1.
Kehidupan Ekonomi
Dilihat dari letak geografis, daerah Kerajaan Sriwijaya mempunyai
letak yang sangat strategis, yaitu di tengah-tengah jalur pelayaran perdagangan
antara India dan Cina. Disamping itu, letak Kerajaan Sriwijaya dekat dengan Selat
Malak yang merupakan urat nadi perhubungan bagi daerah-daerah di Asia Tenggara.
Hasil bumi Kerajaan Sriwijaya merupakan modal utama bagi masyarakatnya
untuk terjun dalam aktifitas pelayaran dan perdagangan.
2.
Sosial
Kerajaan Sriwijaya karena letaknya yang strategis dalam lalu
lintas perdagangan internasional menyebabkan masyarakatnya lebih terbuka dalam menerima
berbagai pengaruh asing. Masyarakat Sriwijaya juga telah mampu mengembangkan bahasa
komunikasi dalam dunia perdagangannya. Kemungkinan bahasa Melayu Kuno telah digunakan
sebagai bahasa pengantar terutama dengan para pedagang dari Jawa Barat, Bangka,
Jambi dan Semenanjung Malaysia.
Penduduk Sriwijaya juga bersifat terbuka dalam menerima berbagai
kebudayaan yang datang. Salah satunya adalah mengadopsi kebudayaan India,
seperti nama-nama India, adat-istiadat, serta tradisi dalam Agama Hindu. Oleh karena
itu, Sriwijaya pernah menjadi pusat pengembangan ajaran Buddha di Asia
Tenggara.
3.
Kehidupan Budaya
Menurut berita dari Tibet, seorang pendeta bernama Atica
dating dan tinggal di Sriwijaya (1011-1023 M) dalam rangka belajar agama Budha dari
seorang guru besar yang bernama Dharmapala. Menurutnya, Sriwijaya merupakan pusat
agama Budha di luar India. Tetapi walaupun Kerajaan Sriwijaya dikenal sebagai pusat
agama Budha, tidak banyak peninggalan purbakala seperti candi-candi atau arca-arca
sebagai tanda kebesaran Kerajaan Sriwijaya dalam bidang kebudayaan.
4.
Kehidupan Agama
Kerajaan Sriwijaya merupakan pusat pertemuan antara para jemaah
agama Budha dari Cina ke India dan dari India ke Cina. Melalui pertemuan itu,
di Kerajaan Sriwijaya berkembang ajaran Budha Mahayana. Bahkan perkembangan ajaran
agama Budha di Kerajaan Sriwijaya tidak terlepas dari pujangga yang berasal dari
Kerajaan Sriwijaya diantaranya Dharmapala dan Sakyakirti. Dharmapala adalah seorang
guru besar agama Budha dari Kerajaan Sriwijaya. Ia pernah mengajar agama Budha
di PerguruanTinggi Nalanda (Benggala).
BAB III
PENUTUP
·
Kesimpulan
Perkembangan kerajaan ho – ling selanjutnya tidak diketahui dengan
jelas. Kemungkinan dipindahkan ke Jawa Timur. Ada satu berita dari China yang
mengatakan bahwa ibukota kerajaan ho-ling dipindahkan ke Jawa Timur oleh Ki-Yen
mungkin seorang rakryan, tapi sebab-sebab kepindahan tidak diketahui. Di
Malang, Jawa Timur di desa Dinoyo ditemukan sebuah prasasti berupa angka tahun
760 M yang isinya mengenai pembuatan sebuah arca Agastya.
Sedangkan Sriwijaya hanya menyisakan sedikit peninggalan
arkeologi dan terlupakan dari ingatan masyarakat pendukungnya, penemuan kembali
kemaharajaan bahari ini oleh Coedès pada tahun 1920-an telah membangkitkan
kesadaran bahwa suatu bentuk persatuan politik raya, berupa kemaharajaan yang
terdiri atas persekutuan kerajaan-kerajaan bahari, pernah bangkit, tumbuh, dan
berjaya di masa lalu.
Di samping Majapahit, kaum nasionalis Indonesia juga
mengagungkan Sriwijaya sebagai sumber kebanggaan dan bukti kejayaan masa lampau
Indonesia. Kegemilangan Sriwijaya
telah menjadi sumber kebanggaan nasional dan identitas daerah, khususnya bagi
penduduk kota Palembang,
provinsi Sumatera
Selatan, keluhuran Sriwijaya telah menjadi
inspirasi seni budaya, seperti lagu dan tarian tradisional Gending
Sriwijaya. Hal yang sama juga berlaku bagi
masyarakat selatan Thailand yang
menciptakan kembali tarian Sevichai yang berdasarkan pada keanggunan seni
budaya Sriwijaya.
Di Indonesia, nama Sriwijaya telah digunakan dan
diabadikan sebagai nama jalan di berbagai kota, dan nama ini juga digunakan
oleh Universitas Sriwijayayang
didirikan tahun 1960 di Palembang. Demikian pula Kodam II Sriwijaya(unit
komando militer), PT Pupuk Sriwijaya (Perusahaan
Pupuk di Sumatera Selatan), Sriwijaya Post (Surat kabar harian di Palembang), Sriwijaya
TV,Sriwijaya
Air (maskapai
penerbangan), Stadion Gelora Sriwijaya,
dan Sriwijaya Football Club (Klab
sepak bola Palembang), semua dinamakan demikian untuk menghormati, memuliakan,
dan merayakan kegemilangan kemaharajaan Sriwijaya.
·
Sumber
Tidak ada komentar:
Posting Komentar