Sabtu, 25 Oktober 2014

Makalah Kehidupan Kerajaan Samudera Pasai dan Aceh



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Islam yang masuk dan kemudian berkembang di Indonesia telah memberi warna tersendiri bagi sejarah Indonesia. Sejak mundurnya kerajaan Hindu-Buddha, Islam semakin berkembang pesat. Dalam perkembangannya Islam menjadi dasar politik kerajaan-kerajaan di Indonesia. Kerajaan-kerajaan bercorak Islam pun bermunculan dan berkembang diberbagai daerah seperti Sumatra, Jawa, Sulawesi, dan Maluku.
Menurut berita dari Marco Polo, pada abad XIII di wilayah Sumatra bagian utara telah berdiri Kerajaan Perlak. Sejak berdirinya Kerajaan Perlak, secara bertahap di wilayah Sumatra bermunculan kerajaan Islam. Pada abad XVI sebagian wilayah Sumatra bagian utara hingga pesisir timur telah dikuasai oleh kerajaan-kerajaan Islam seperti Kerajaan Samudera Pasai, Aceh, dan Palembang.
1.      Kerajaan Samudera Pasai
Kerajaan ini merupakan penerus Kerajaan Perlak di Sumatra. Menurut laporan Marco Polo, pada abad XIII Kerajaan Samudera Pasai telah berkembang menjadi pusat agama Islam di wilayah Sumatra bagian utara.
Secara geografis Kerajaan Samudera Pasai memiliki letak yang sangat strategis. Kerajaan ini terletak di tepi Selat Malaka yang merupakan jalur lalu lintas perdagangan dunia.

2.      Kerajaan Aceh
Menurut berita dari Cina dan kitab Negarakertagama, sebelum Kerajaan Aceh Darussalam berdiri, telah ada Kerajaan Lamuri yang pada abad XIII-XIV berada di bawah kekuasaan Sriwijaya dan Majapahit. Kerajaan Aceh Darussalam baru muncul ketika dipimpin oleh Sultan Ali Mughayat Syah pada abad XVI. Di bawah pimpinannya Kerajaan Aceh Darussalam berhasil melepaskan diri dari Kerajaan Pidie. Sultan Ali Mughayat Syah kemudian menggabungkan Kerajaan Lamuri ke dalam Kerajaan Aceh Darussalam. Sejak saat itu, Kerajaan Aceh mulai melakukan perannya sebagai kekuatan baru di kawasan Selat Malaka.


B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas dapat diperoleh rumusan masalah sebagai berikut.
1.      Bagaimana kehidupan politik, ekonomi, agama, dan sosial budaya di Kerajaan Samudera Pasai?
2.      Bagaimana kehidupan politik, ekonomi, agama, dan sosial budaya di Kerajaan Aceh Darussalam?
C.    Tujuan
Dari rumusan masalah di atas maka dapat disimpulkan bahwa tujuan dari laporan ini adalah sebagai berikut.
1.      Mengetahui kehidupan politik, ekonomi, agama serta sosial budaya di Kerajaan Samudera Pasai
2.      Mengetahui aspek kehidupan baik politik, ekonomi, agama maupun sosial budaya di Kerajaan Aceh Darussalam








BAB II
PEMBAHASAN

A.    Kerajaan Samudera Pasai

1.      Kehidupan politik
Pusat pemerintahan Kesultanan Pasai letaknya antara Krueng Jambo Aye (Sungai Jambu Air) dengan Krueng Pase (Sungai Pasai), Aceh Utara. Menurut ibnu Batuthah yang menghabiskan waktunya sekitar dua minggu di Pasai, menyebutkan bahwa kerajaan ini tidak memiliki benteng pertahanan dari batu, namun telah memagari kotanya dengan kayu, yang berjarak beberapa kilometer dari pelabuhannya. Pada kawasan inti kerajaan ini terdapat masjid, dan pasar serta dilalui oleh sungai tawar yang bermuara ke laut. Ma Huan menambahkan, walau muaranya besar namun ombaknya menggelora dan mudah mengakibatkan kapal terbalik. Sehingga penamaan Lhokseumawe yang dapat bermaksud teluk yang airnya berputar-putar kemungkinan berkaitan dengan ini.
Dalam struktur pemerintahan terdapat istilah menteri, syahbandar dan kadi. Sementara anak-anak sultan baik lelaki maupun perempuan digelari dengan Tun, begitu juga beberapa petinggi kerajaan. Kesultanan Pasai memiliki beberapa kerajaan bawahan, dan penguasanya juga bergelar sultan.
Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Malik az-Zahir, Kerajaan Perlak telah menjadi bagian dari kedaulatan Pasai, kemudian ia juga menempatkan salah seorang anaknya yaitu Sultan Mansur di Samudera. Namun pada masa Sultan Ahmad Malik az-Zahir, kawasan Samudera sudah menjadi satu kesatuan dengan nama Samudera Pasai yang tetap berpusat di Pasai. Pada masa pemerintahan Sultan Zain al-Abidin Malik az-Zahir, Lide (Kerajaan Pedir) disebutkan menjadi kerajaan bawahan dari Pasai. Sementara itu Pasai juga disebutkan memiliki hubungan yang buruk dengan Nakur, puncaknya kerajaan ini menyerang Pasai dan mengakibatkan Sultan Pasai terbunuh.
Menjelang masa-masa akhir pemerintahan Kesultanan Pasai, terjadi beberapa pertikaian di Pasai yang mengakibatkan perang saudara. Sulalatus Salatin menceritakan Sultan Pasai meminta bantuan kepada Sultan Melaka untuk meredam pemberontakan tersebut. Namun Kesultanan Pasai sendiri akhirnya runtuh setelah ditaklukkan oleh Portugal tahun 1521 yang sebelumnya telah menaklukan Melaka tahun 1511, dan kemudian tahun 1524 wilayah Pasai sudah menjadi bagian dari kedaulatan Kesultanan Aceh.

2.      Kehidupan ekonomi
Karena letaknya yang strategis, di Selat Malaka, di tengah jalur perdagangan India, Gujarat, Arab, dan Cina, Pasai dengan cepat berkembang menjadi besar. Sebagai kerajaan maritim, Pasai menggantungkan perekonomiannya dari pelayaran dan perdagangan. Letaknya yang strategis di Selat Malaka membuat kerajaan ini menjadi penghubung antara pusat-pusat dagang di Nusantara dengan Asia Barat, India, dan Cina. Salah satu sumber penghasilan kerajaan ini adalah pajak yang dikenakan pada kapal dagang yang melewati wilayah perairannya.
Pasai juga merupakan kota dagang, mengandalkan lada sebagai komoditi andalannya, dalam catatan Ma Huan disebutkan 100 kati lada dijual dengan harga perak 1 tahil. Dalam perdagangan Kesultanan Pasai mengeluarkan koin emas sebagai alat transaksi pada masyarakatnya, mata uang ini disebut Deureuham (dirham) yang dibuat 70% emas murni dengan berat 0.60 gram, diameter 10 mm, mutu 17 karat.
Sementara masyarakat Pasai umumnya telah menanam padi di ladang, yang dipanen 2 kali setahun, serta memilki sapi perah untuk menghasilkan keju. Sedangkan rumah penduduknya memiliki tinggi rata-rata 2.5 meter yang disekat menjadi beberapa bilik, dengan lantai terbuat dari bilah-bilah kayu kelapa atau kayu pinang yang disusun dengan rotan, dan di atasnya dihamparkan tikar rotan atau pandan.

3.      Kehidupan agama
Islam merupakan agama yang dianut oleh masyarakat Pasai, walau pengaruh Hindu dan Buddha juga turut mewarnai masyarakat ini. Dari catatan Ma Huan dan Tomé Pires, telah membandingkan dan menyebutkan bahwa sosial budaya masyarakat Pasai mirip dengan Malaka, seperti bahasa, maupun tradisi pada upacara kelahiran, perkawinan dan kematian. Kemungkinan kesamaan ini memudahkan penerimaan Islam di Malaka dan hubungan yang akrab ini dipererat oleh adanya pernikahan antara putri Pasai dengan raja Malaka sebagaimana diceritakan dalam Sulalatus Salatin.
Samudera Pasai berjasa menyebarkan agama Islam ke seluruh pelosok di Sumatera, bahkan menjadi pusat penyebaran agama. Selain banyaknya orang Arab menetap dan banyak ditemui persamaan dengan kebudayaan Arab, atas jasa-jasanya menyebarkan agama Islam ke seluruh pelosok Nusantara wilayah itu dinamakan Serambi Mekah.

4.      Kehidupan sosial budaya
Kehidupan sosial masyarakat Kerajaan Samudera Pasai diatur menurut aturan – aturan dan hukum – hukum Islam. Dalam pelaksanaannya banyak terdapat persamaan dengan kehidupan sosial masyarakat di negeri Mesir maupun di Arab.
Sedangkan kehidupan budaya Kerajaan Samudera Pasai berkembang sebagai penghasil karya tulis yang baik. Beberapa orang berhasil memanfaatkan huruf Arab yang dibawa oleh agama Islam untuk menulis karya mereka dalam bahasa Melayu, yang kemudian disebut dengan bahasa Jawi dan hurufnya disebut Arab Jawi. Selain itu juga berkembang ilmu tasawuf yang diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu.





B.     Kerajaan Aceh Darussalam

1.      Kehidupan politik
Aceh cepat tumbuh menjadi kerajaan besar karena didukung oleh beberapa faktor sebagai berikut.
a.    Letak ibu kota Aceh yang sangat strategis yaitu di pintu gerbang pelayaran dari lndia dan Timur Tengah yang akan ke Malaka, Cina, atau ke Jawa.
b.   Pelabuhan Aceh (Olele) memiliki persyaratan yang baik sebagai pelabuhan dagang.
c.    Daerah Aceh kaya dengan tanaman lada yang merupakan dagangan ekspor yang penting.
d.   Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis menyebabkan pedagang lslam banyak yang singgah ke Aceh, apalagi setelah jalur pelayaran beralih melalui sepanjang pantai Barat Sumatra.
Corak pemerintahan Aceh adalah pemerintahan sipil dan pemerintahan atas dasar agama.
a.    Pemerintahan sipil dipimpin oleh kaum bangsawan. Setiap kampung (gampong) dipimpin oleh seorang ulebalang. Beberapa gampong digabung menjadi sagi yang dipimpin oleh seorang panglima sagi. Kaum bangsawan yang mernegang kekuasaan sipil disebut teuku.
b.   Pemerintahan atas dasar agama, yang dilakukan dengan menyatukan beberapa ganpong dengan sebuah masjid yang disebut mukim. Kepala tiap-tiap mukim disebut imam. Kaum ulama yang berkuasa dalam bidang keagamaan disebut teuku.
Adapun raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Aceh adalah sebagai berikut.
a.   Sultan Ali Mughayat Syah (1514-1528 M)
Sultan Ali Mughayat Syah adalah raja pertama Kerajaan Aceh. Pada masa pemerintahannya melakukan perluasan daerah seperti ke daerah Daya Pasai dan melakukan serangan terhadap kedudukan Portugis di Malaka serta menyerang Kerajaan Aru.


b.   Sultan Salahuddin (1528-1537 M)
Pada masa pemerintahannya kurang memerhatikan kerajaan, sehingga kerajaan mulai goya dan mengalami kemunduran. Akhirnya pada tahun 1537 Suttan Salahuddin diganti oleh saudaranya.yang bernama Alauddin Riayat Syah al-Kahar.
c.    Sultan Alauddin Riayat Syah al-Kahar (1537-1568 M)
Pada masa pemerintahannya, Aceh berkembang menjadi bandar utama di Asia bagi pedagang muslim mancanegara.
d.      Sultan lskandar Muda (1607-1636 M)
Di bawah pemerintahan Sultan lskandar Muda, Kerajaan Aceh mengalami kejayaannya. Kerajaan Aceh tumbuh menjadi kerajaan besar dan berkuasa atas perdagangan Islam, bahkan menjadi bandar transito yang dapat menghubungkan dengnn perdagangan di dunia Barat. Untuk memperkuat kedudukan Aceh sebagai pusat perdagangan. Sultan lskandar Muda melakukan beberapa tindakan sebagai berikut.
1)      Merebut sejumlah pelabuhan penting di pesisir barat dan timur Sumatera serta pesisir barat Semenanjung Malaya.
2)      Menyerang kedudukan Portugis di Malaka dan kapal-kapalnya yang melalui selat Malaka.
3)      Aceh sempat menang perang melawan armada Portugis di sekitar Pulau Bintan pada tahun 1614.
4)      Bekerja sama dengan lnggris dan Belanda untuk memperlemah pengaruh Portugis. Iskandar Muda mengizinkan persekutuan dagang kedua negara itu untuk membuka kantor di Aceh.
e.       Sultan lskandar Thani (163F1641 M)
Pada masa pemerintahan Sultan lskandar Thani lebih memerhatikan perkernbagan dalam negeri dari pada politik ekspansi, menegakkan hukum berdasarkan syariat Islam, dan hubungan dengan wilayah taklukan dijalin dalam suasana liberal, bukan melalui tekanan politik atau militer.

2.      Kehidupan ekonomi
Oleh karena letaknya dijalur lalu lintas pelayaran dan perdagangan Selat Malaka, maka Kerajaan Aceh menitikberatkan perekonomiannya pada bidang perdagangan. Penguasaan atas daerah-daerah pantai barat dan timur Sumatra banyak menghasilkan lada. Semenanjung Malaka banyak menghasilkan lada dan timah. Hal ini menjadi bahan ekspor yang penting bagi Aceh sehingga perdagangan Aceh maju dengan pesat. Semakin ramainya S\]elat Malaka, berdatangan pula bangsa-bangsa Eropa yang ingin berdagang, diantaranya Spanyol, Inggris, Portugis dan Belanda.
Pelabuhan yang terletak di wilayah Aceh merupakan daerah transit barang-barang yang dijual dari dalam negeri ke luar negeri dan sebaliknya. Barang-barang dari dalam negeri diantaranya beras, lada, timah, emas, perak dan rempah-rempah. Sedangkan barang-barang dari luar negeri adalah kain, porselin, sutra dan minyak wangi.

3.      Kehidupan agama
Orang Aceh mayoritas beragama Islam dan kehidupan mereka sehari-hari sangat dipengaruhi oleh ajaran Islam ini. Oleh sebab itu, para ulama merupakan salah satu sendi kehidupan masyarakat Aceh. Pengaruh Islam yang sangat kuat juga tampak dalam aspek bahasa dan sastra Aceh.
Golongan ulama memiliki peranan penting dalam masyarakat. Mereka menjadi pemimpin agama dan penasihat pemerintah. Penguasa Aceh sangat memperhatikan pendidikan agama Islam. Perhatian ini terlihat dari adanya jenjang pendidikan seperti berikut.
a.       Meunasah, setingkat sekolah dasar (ibtidaiyah)
b.      Rangkang, setingkat sekolah menengah pertama (tsanawiyah)
c.       Dayah, jenjang pendidikan setingkat sekolah menengah atas (aliyah)
d.      Dayah Teuku Cik, merupakan jenjang pendidikan setingkat perguruan tinggi.

4.      Kehidupan sosial budaya
      Dalam kehidupan sosial, di Aceh muncul dua golongan yang saling berebut pengaruh, yakni golongan teuku dan golongan tengku. Golongan teuku adalah kaum bangsawan yang memegang kekuasaan sipil. Adapun golongan tengku adalah kaum ulama yang memegang peranan pentingdalam bidang agama. Di antara golongan agama sendiri juga ada persaingan, yakni antara aliran Syiah dan aliran Sunnah wal Jama'ah.
Pada masa Sultan Iskandar Muda, aliran Syiah berkembang pesat. Tokoh aliran ini ialah Hamzah Fansuri yang kemudian diteruskan oleh Syamsuddin Pasai. Setelah Sultan Iskansar Muda meninggal, aliran Sunnah wal Jama'ah yang dapat berkembang pesat. Tokoh aliran ini ialah Nuruddin ar Raniri yang berhasil menulis sejarah Aceh dengan judul Bustanussalatin.
Sedangkan peninggalan budaya Islam di Nusantara banyak di antaranya yang berasal dari Aceh, seperti Bustanussalatin dan Tibyan fi Ma‘rifatil Adyan karangan Nuruddin ar-Raniri pada awal abad ke-17 ; Kitab Tarjuman al-Mustafid yang merupakan tafsir Al Quran Melayu pertama karya Shaikh Abdurrauf Singkel tahun 1670-an; dan Tajussalatin karya Hamzah Fansuri. Ini bukti bahwa Aceh sangat berperan dalam pembentukan tradisi intelektual Islam di Nusantara. Karya sastra lainnya, seperti Hikayat Prang Sabi, Hikayat Malem Diwa, Syair Hamzah Fansuri, Hikayat Raja-Raja Pasai, Sejarah Melayu, merupakan bukti lain kuatnya pengaruh Islam dalam kehidupan masyarakat Aceh.



BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dari Kerajaan Samudera Pasai dan Kerajaan Aceh Darussaalam di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa karakter pemimpin kedua kerajaan tersebut sangat menentukan terhadap kehidupan masyarakatnya. Karakter kepemimpinan yang adil, jujur, tanggung jawab, dan bijaksana tentu akan memajukan kehidupan masyarakat. Hal ini yang perlu dicontoh oleh para pemimpin di negara kita saat ini.
B.     Saran

Laporan ini masih jauh dari kata sempurna, oleh sebab itu penulis memohon maaf atas segala kekurangan yang terdapat dalam laporan ini. Penulis juga menerima kritik dan saran dari para pembaca agar dalam pembuatan laporan selanjutnya lebih baik lagi. Demikian laporan ini, semoga bermanfaat. 

2 komentar: