Sabtu, 25 Oktober 2014

Makalah Kehidupan Kerajaan Samudera Pasai dan Aceh



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Islam yang masuk dan kemudian berkembang di Indonesia telah memberi warna tersendiri bagi sejarah Indonesia. Sejak mundurnya kerajaan Hindu-Buddha, Islam semakin berkembang pesat. Dalam perkembangannya Islam menjadi dasar politik kerajaan-kerajaan di Indonesia. Kerajaan-kerajaan bercorak Islam pun bermunculan dan berkembang diberbagai daerah seperti Sumatra, Jawa, Sulawesi, dan Maluku.
Menurut berita dari Marco Polo, pada abad XIII di wilayah Sumatra bagian utara telah berdiri Kerajaan Perlak. Sejak berdirinya Kerajaan Perlak, secara bertahap di wilayah Sumatra bermunculan kerajaan Islam. Pada abad XVI sebagian wilayah Sumatra bagian utara hingga pesisir timur telah dikuasai oleh kerajaan-kerajaan Islam seperti Kerajaan Samudera Pasai, Aceh, dan Palembang.
1.      Kerajaan Samudera Pasai
Kerajaan ini merupakan penerus Kerajaan Perlak di Sumatra. Menurut laporan Marco Polo, pada abad XIII Kerajaan Samudera Pasai telah berkembang menjadi pusat agama Islam di wilayah Sumatra bagian utara.
Secara geografis Kerajaan Samudera Pasai memiliki letak yang sangat strategis. Kerajaan ini terletak di tepi Selat Malaka yang merupakan jalur lalu lintas perdagangan dunia.

2.      Kerajaan Aceh
Menurut berita dari Cina dan kitab Negarakertagama, sebelum Kerajaan Aceh Darussalam berdiri, telah ada Kerajaan Lamuri yang pada abad XIII-XIV berada di bawah kekuasaan Sriwijaya dan Majapahit. Kerajaan Aceh Darussalam baru muncul ketika dipimpin oleh Sultan Ali Mughayat Syah pada abad XVI. Di bawah pimpinannya Kerajaan Aceh Darussalam berhasil melepaskan diri dari Kerajaan Pidie. Sultan Ali Mughayat Syah kemudian menggabungkan Kerajaan Lamuri ke dalam Kerajaan Aceh Darussalam. Sejak saat itu, Kerajaan Aceh mulai melakukan perannya sebagai kekuatan baru di kawasan Selat Malaka.


B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas dapat diperoleh rumusan masalah sebagai berikut.
1.      Bagaimana kehidupan politik, ekonomi, agama, dan sosial budaya di Kerajaan Samudera Pasai?
2.      Bagaimana kehidupan politik, ekonomi, agama, dan sosial budaya di Kerajaan Aceh Darussalam?
C.    Tujuan
Dari rumusan masalah di atas maka dapat disimpulkan bahwa tujuan dari laporan ini adalah sebagai berikut.
1.      Mengetahui kehidupan politik, ekonomi, agama serta sosial budaya di Kerajaan Samudera Pasai
2.      Mengetahui aspek kehidupan baik politik, ekonomi, agama maupun sosial budaya di Kerajaan Aceh Darussalam








BAB II
PEMBAHASAN

A.    Kerajaan Samudera Pasai

1.      Kehidupan politik
Pusat pemerintahan Kesultanan Pasai letaknya antara Krueng Jambo Aye (Sungai Jambu Air) dengan Krueng Pase (Sungai Pasai), Aceh Utara. Menurut ibnu Batuthah yang menghabiskan waktunya sekitar dua minggu di Pasai, menyebutkan bahwa kerajaan ini tidak memiliki benteng pertahanan dari batu, namun telah memagari kotanya dengan kayu, yang berjarak beberapa kilometer dari pelabuhannya. Pada kawasan inti kerajaan ini terdapat masjid, dan pasar serta dilalui oleh sungai tawar yang bermuara ke laut. Ma Huan menambahkan, walau muaranya besar namun ombaknya menggelora dan mudah mengakibatkan kapal terbalik. Sehingga penamaan Lhokseumawe yang dapat bermaksud teluk yang airnya berputar-putar kemungkinan berkaitan dengan ini.
Dalam struktur pemerintahan terdapat istilah menteri, syahbandar dan kadi. Sementara anak-anak sultan baik lelaki maupun perempuan digelari dengan Tun, begitu juga beberapa petinggi kerajaan. Kesultanan Pasai memiliki beberapa kerajaan bawahan, dan penguasanya juga bergelar sultan.
Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Malik az-Zahir, Kerajaan Perlak telah menjadi bagian dari kedaulatan Pasai, kemudian ia juga menempatkan salah seorang anaknya yaitu Sultan Mansur di Samudera. Namun pada masa Sultan Ahmad Malik az-Zahir, kawasan Samudera sudah menjadi satu kesatuan dengan nama Samudera Pasai yang tetap berpusat di Pasai. Pada masa pemerintahan Sultan Zain al-Abidin Malik az-Zahir, Lide (Kerajaan Pedir) disebutkan menjadi kerajaan bawahan dari Pasai. Sementara itu Pasai juga disebutkan memiliki hubungan yang buruk dengan Nakur, puncaknya kerajaan ini menyerang Pasai dan mengakibatkan Sultan Pasai terbunuh.
Menjelang masa-masa akhir pemerintahan Kesultanan Pasai, terjadi beberapa pertikaian di Pasai yang mengakibatkan perang saudara. Sulalatus Salatin menceritakan Sultan Pasai meminta bantuan kepada Sultan Melaka untuk meredam pemberontakan tersebut. Namun Kesultanan Pasai sendiri akhirnya runtuh setelah ditaklukkan oleh Portugal tahun 1521 yang sebelumnya telah menaklukan Melaka tahun 1511, dan kemudian tahun 1524 wilayah Pasai sudah menjadi bagian dari kedaulatan Kesultanan Aceh.

2.      Kehidupan ekonomi
Karena letaknya yang strategis, di Selat Malaka, di tengah jalur perdagangan India, Gujarat, Arab, dan Cina, Pasai dengan cepat berkembang menjadi besar. Sebagai kerajaan maritim, Pasai menggantungkan perekonomiannya dari pelayaran dan perdagangan. Letaknya yang strategis di Selat Malaka membuat kerajaan ini menjadi penghubung antara pusat-pusat dagang di Nusantara dengan Asia Barat, India, dan Cina. Salah satu sumber penghasilan kerajaan ini adalah pajak yang dikenakan pada kapal dagang yang melewati wilayah perairannya.
Pasai juga merupakan kota dagang, mengandalkan lada sebagai komoditi andalannya, dalam catatan Ma Huan disebutkan 100 kati lada dijual dengan harga perak 1 tahil. Dalam perdagangan Kesultanan Pasai mengeluarkan koin emas sebagai alat transaksi pada masyarakatnya, mata uang ini disebut Deureuham (dirham) yang dibuat 70% emas murni dengan berat 0.60 gram, diameter 10 mm, mutu 17 karat.
Sementara masyarakat Pasai umumnya telah menanam padi di ladang, yang dipanen 2 kali setahun, serta memilki sapi perah untuk menghasilkan keju. Sedangkan rumah penduduknya memiliki tinggi rata-rata 2.5 meter yang disekat menjadi beberapa bilik, dengan lantai terbuat dari bilah-bilah kayu kelapa atau kayu pinang yang disusun dengan rotan, dan di atasnya dihamparkan tikar rotan atau pandan.

3.      Kehidupan agama
Islam merupakan agama yang dianut oleh masyarakat Pasai, walau pengaruh Hindu dan Buddha juga turut mewarnai masyarakat ini. Dari catatan Ma Huan dan Tomé Pires, telah membandingkan dan menyebutkan bahwa sosial budaya masyarakat Pasai mirip dengan Malaka, seperti bahasa, maupun tradisi pada upacara kelahiran, perkawinan dan kematian. Kemungkinan kesamaan ini memudahkan penerimaan Islam di Malaka dan hubungan yang akrab ini dipererat oleh adanya pernikahan antara putri Pasai dengan raja Malaka sebagaimana diceritakan dalam Sulalatus Salatin.
Samudera Pasai berjasa menyebarkan agama Islam ke seluruh pelosok di Sumatera, bahkan menjadi pusat penyebaran agama. Selain banyaknya orang Arab menetap dan banyak ditemui persamaan dengan kebudayaan Arab, atas jasa-jasanya menyebarkan agama Islam ke seluruh pelosok Nusantara wilayah itu dinamakan Serambi Mekah.

4.      Kehidupan sosial budaya
Kehidupan sosial masyarakat Kerajaan Samudera Pasai diatur menurut aturan – aturan dan hukum – hukum Islam. Dalam pelaksanaannya banyak terdapat persamaan dengan kehidupan sosial masyarakat di negeri Mesir maupun di Arab.
Sedangkan kehidupan budaya Kerajaan Samudera Pasai berkembang sebagai penghasil karya tulis yang baik. Beberapa orang berhasil memanfaatkan huruf Arab yang dibawa oleh agama Islam untuk menulis karya mereka dalam bahasa Melayu, yang kemudian disebut dengan bahasa Jawi dan hurufnya disebut Arab Jawi. Selain itu juga berkembang ilmu tasawuf yang diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu.





B.     Kerajaan Aceh Darussalam

1.      Kehidupan politik
Aceh cepat tumbuh menjadi kerajaan besar karena didukung oleh beberapa faktor sebagai berikut.
a.    Letak ibu kota Aceh yang sangat strategis yaitu di pintu gerbang pelayaran dari lndia dan Timur Tengah yang akan ke Malaka, Cina, atau ke Jawa.
b.   Pelabuhan Aceh (Olele) memiliki persyaratan yang baik sebagai pelabuhan dagang.
c.    Daerah Aceh kaya dengan tanaman lada yang merupakan dagangan ekspor yang penting.
d.   Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis menyebabkan pedagang lslam banyak yang singgah ke Aceh, apalagi setelah jalur pelayaran beralih melalui sepanjang pantai Barat Sumatra.
Corak pemerintahan Aceh adalah pemerintahan sipil dan pemerintahan atas dasar agama.
a.    Pemerintahan sipil dipimpin oleh kaum bangsawan. Setiap kampung (gampong) dipimpin oleh seorang ulebalang. Beberapa gampong digabung menjadi sagi yang dipimpin oleh seorang panglima sagi. Kaum bangsawan yang mernegang kekuasaan sipil disebut teuku.
b.   Pemerintahan atas dasar agama, yang dilakukan dengan menyatukan beberapa ganpong dengan sebuah masjid yang disebut mukim. Kepala tiap-tiap mukim disebut imam. Kaum ulama yang berkuasa dalam bidang keagamaan disebut teuku.
Adapun raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Aceh adalah sebagai berikut.
a.   Sultan Ali Mughayat Syah (1514-1528 M)
Sultan Ali Mughayat Syah adalah raja pertama Kerajaan Aceh. Pada masa pemerintahannya melakukan perluasan daerah seperti ke daerah Daya Pasai dan melakukan serangan terhadap kedudukan Portugis di Malaka serta menyerang Kerajaan Aru.


b.   Sultan Salahuddin (1528-1537 M)
Pada masa pemerintahannya kurang memerhatikan kerajaan, sehingga kerajaan mulai goya dan mengalami kemunduran. Akhirnya pada tahun 1537 Suttan Salahuddin diganti oleh saudaranya.yang bernama Alauddin Riayat Syah al-Kahar.
c.    Sultan Alauddin Riayat Syah al-Kahar (1537-1568 M)
Pada masa pemerintahannya, Aceh berkembang menjadi bandar utama di Asia bagi pedagang muslim mancanegara.
d.      Sultan lskandar Muda (1607-1636 M)
Di bawah pemerintahan Sultan lskandar Muda, Kerajaan Aceh mengalami kejayaannya. Kerajaan Aceh tumbuh menjadi kerajaan besar dan berkuasa atas perdagangan Islam, bahkan menjadi bandar transito yang dapat menghubungkan dengnn perdagangan di dunia Barat. Untuk memperkuat kedudukan Aceh sebagai pusat perdagangan. Sultan lskandar Muda melakukan beberapa tindakan sebagai berikut.
1)      Merebut sejumlah pelabuhan penting di pesisir barat dan timur Sumatera serta pesisir barat Semenanjung Malaya.
2)      Menyerang kedudukan Portugis di Malaka dan kapal-kapalnya yang melalui selat Malaka.
3)      Aceh sempat menang perang melawan armada Portugis di sekitar Pulau Bintan pada tahun 1614.
4)      Bekerja sama dengan lnggris dan Belanda untuk memperlemah pengaruh Portugis. Iskandar Muda mengizinkan persekutuan dagang kedua negara itu untuk membuka kantor di Aceh.
e.       Sultan lskandar Thani (163F1641 M)
Pada masa pemerintahan Sultan lskandar Thani lebih memerhatikan perkernbagan dalam negeri dari pada politik ekspansi, menegakkan hukum berdasarkan syariat Islam, dan hubungan dengan wilayah taklukan dijalin dalam suasana liberal, bukan melalui tekanan politik atau militer.

2.      Kehidupan ekonomi
Oleh karena letaknya dijalur lalu lintas pelayaran dan perdagangan Selat Malaka, maka Kerajaan Aceh menitikberatkan perekonomiannya pada bidang perdagangan. Penguasaan atas daerah-daerah pantai barat dan timur Sumatra banyak menghasilkan lada. Semenanjung Malaka banyak menghasilkan lada dan timah. Hal ini menjadi bahan ekspor yang penting bagi Aceh sehingga perdagangan Aceh maju dengan pesat. Semakin ramainya S\]elat Malaka, berdatangan pula bangsa-bangsa Eropa yang ingin berdagang, diantaranya Spanyol, Inggris, Portugis dan Belanda.
Pelabuhan yang terletak di wilayah Aceh merupakan daerah transit barang-barang yang dijual dari dalam negeri ke luar negeri dan sebaliknya. Barang-barang dari dalam negeri diantaranya beras, lada, timah, emas, perak dan rempah-rempah. Sedangkan barang-barang dari luar negeri adalah kain, porselin, sutra dan minyak wangi.

3.      Kehidupan agama
Orang Aceh mayoritas beragama Islam dan kehidupan mereka sehari-hari sangat dipengaruhi oleh ajaran Islam ini. Oleh sebab itu, para ulama merupakan salah satu sendi kehidupan masyarakat Aceh. Pengaruh Islam yang sangat kuat juga tampak dalam aspek bahasa dan sastra Aceh.
Golongan ulama memiliki peranan penting dalam masyarakat. Mereka menjadi pemimpin agama dan penasihat pemerintah. Penguasa Aceh sangat memperhatikan pendidikan agama Islam. Perhatian ini terlihat dari adanya jenjang pendidikan seperti berikut.
a.       Meunasah, setingkat sekolah dasar (ibtidaiyah)
b.      Rangkang, setingkat sekolah menengah pertama (tsanawiyah)
c.       Dayah, jenjang pendidikan setingkat sekolah menengah atas (aliyah)
d.      Dayah Teuku Cik, merupakan jenjang pendidikan setingkat perguruan tinggi.

4.      Kehidupan sosial budaya
      Dalam kehidupan sosial, di Aceh muncul dua golongan yang saling berebut pengaruh, yakni golongan teuku dan golongan tengku. Golongan teuku adalah kaum bangsawan yang memegang kekuasaan sipil. Adapun golongan tengku adalah kaum ulama yang memegang peranan pentingdalam bidang agama. Di antara golongan agama sendiri juga ada persaingan, yakni antara aliran Syiah dan aliran Sunnah wal Jama'ah.
Pada masa Sultan Iskandar Muda, aliran Syiah berkembang pesat. Tokoh aliran ini ialah Hamzah Fansuri yang kemudian diteruskan oleh Syamsuddin Pasai. Setelah Sultan Iskansar Muda meninggal, aliran Sunnah wal Jama'ah yang dapat berkembang pesat. Tokoh aliran ini ialah Nuruddin ar Raniri yang berhasil menulis sejarah Aceh dengan judul Bustanussalatin.
Sedangkan peninggalan budaya Islam di Nusantara banyak di antaranya yang berasal dari Aceh, seperti Bustanussalatin dan Tibyan fi Ma‘rifatil Adyan karangan Nuruddin ar-Raniri pada awal abad ke-17 ; Kitab Tarjuman al-Mustafid yang merupakan tafsir Al Quran Melayu pertama karya Shaikh Abdurrauf Singkel tahun 1670-an; dan Tajussalatin karya Hamzah Fansuri. Ini bukti bahwa Aceh sangat berperan dalam pembentukan tradisi intelektual Islam di Nusantara. Karya sastra lainnya, seperti Hikayat Prang Sabi, Hikayat Malem Diwa, Syair Hamzah Fansuri, Hikayat Raja-Raja Pasai, Sejarah Melayu, merupakan bukti lain kuatnya pengaruh Islam dalam kehidupan masyarakat Aceh.



BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dari Kerajaan Samudera Pasai dan Kerajaan Aceh Darussaalam di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa karakter pemimpin kedua kerajaan tersebut sangat menentukan terhadap kehidupan masyarakatnya. Karakter kepemimpinan yang adil, jujur, tanggung jawab, dan bijaksana tentu akan memajukan kehidupan masyarakat. Hal ini yang perlu dicontoh oleh para pemimpin di negara kita saat ini.
B.     Saran

Laporan ini masih jauh dari kata sempurna, oleh sebab itu penulis memohon maaf atas segala kekurangan yang terdapat dalam laporan ini. Penulis juga menerima kritik dan saran dari para pembaca agar dalam pembuatan laporan selanjutnya lebih baik lagi. Demikian laporan ini, semoga bermanfaat. 

Makalah Kerajaan Kalijangga dan Kerajaan Sriwijaya


TUGAS SEJARAH INDONESIA

Kehidupan Pada Masa Kerajaan Kalijangga dan Kerajaan Sriwijaya






Disusun Oleh :
Nama : Abiyyu Hilmy Abdurrahman
No     : 02
Kelas : X MIA 3






SMA N 1 WONOSARI
Jl. Brigjen Katamso No. 4 Wonosari, Gunungkidul
Tahun Ajaran 2013/2014


KATA PENGANTAR

            Puji syukur atas segala rahmat dan karunia Tuhan Allah Yang Maha Esa, yang telah memberi  berkat dan rahmat – Nya penulis dapat menyelesaikan Makalah  Tugas Sejarah Indonesia ini tanpa ada halangan suatu apapun. Tiada dipungkiri dan dilupakan bahwa sebenarnyalah hanya Tuhan Allah sumber ilmu dan pengetahuan sejati, di mana dari situlah manusia membangun rasa, karsa, dan cipta.
            Tugas ini berisikan tentang informasi pengertian atau yang lebih khususnya membahas proses kehidupan pada masa Kerajaan Kalingga dan Kerajaan Sriwijaya. Tugas ini saya susun secara sistematis dan praktis. Saya telah berusaha semaksimal mungkin untuk menyajikan data-data yang saya peroleh dari berbagai sumber.
Tidak terlalu berlebihan bila di sini saya dengan tulus hati menyampaikan rasa terimakasih atas segala budi baik yang telah saya terima.
Dalam punyusunan makalah ini saya menyadari banyak kekurangan baik dari segi materi, teknik penyampaian, penyusunan dan pencetakannya. Oleh sebab itu saya sebagai penulis mengharap kritik dan saran yang membangun bagi diri penulis guna perbaikan lebih lanjut.
Akhir kata saya mengucapkan banyak terima kasih dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.


                                                                                                            Penyusun


                                                                                              Abiyyu Hilmy Abdurrahman




BAB I
PENDAHULUAN
·        Latar Belakang
            Letak Kerajaan Kaling atau Holing, diperkirakan di Jawa Tengah. Nama Kaling berasal dari Kalingga, nama sebuah kerajaan di India Selatan. Sumbernya adalah berita Cina yang menyebutkan bahwa kotanya dikelilingi dengan pagar kayu, rajanya beristana di rumah yang bertingkat, yang ditutup dengan atap, Orang-orangnya sudah pandai tulis-menulis dan mengenal juga ilmu perbintangan.
            Kalingga atau Ho-ling (sebutan dari sumber Tiongkok) adalah sebuah kerajaan bercorak Hindu yang muncul di Jawa Tengah sekitar abad ke-6 masehi. Letak pusat kerajaan ini belumlah jelas, kemungkinan berada di suatu tempat antara Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Jepara sekarang. Sumber sejarah kerajaan ini masih belum jelas dan kabur, kebanyakan diperoleh dari sumber catatan China, tradisi kisah setempat, dan naskah Carita Parahyangan yang disusun berabad-abad kemudian pada abad ke-16 menyinggung secara singkat mengenai Ratu Shima dan kaitannya dengan Kerajaan Galuh. Kalingga telah ada pada abad ke-6 Masehi dan keberadaannya diketahui dari sumber-sumber Tiongkok. Kerajaan ini pernah diperintah oleh Ratu Shima, yang dikenal memiliki peraturan barang siapa yang mencuri, akan dipotong tangannya.
Yang sangat tampak bagi orang Cina ialah orang Kaling (Jawa), kalau makan tidak memakai0020sendok atau garpu, melainkan dengan jarinya saja. Minuman kerasnya yang dibikin ialah air yang disadap dari tandan bunga kelapa (tuak).
Diberitakan pula bahwa dalam tahun 640 atau 648 M kerajaan Jawa mengirim utusan ke Cina. Pada tahun 666 M, dikatakan bahwa tanah Jawa diperintah oleh seorang raja perempuan yakni dalam tahun 674 – 675 M, orang-orang Holing atau Kaling (Jawa) menobatkan raja perempuan yang bernama Simo, dan memegang pemerintahannya dengan tegas dan bijaksana.
            Sedangkan Kerajaan Sriwijaya Sriwijaya (atau juga disebut Srivijaya; Thai: ศรีวิชัย atau "Ṣ̄ rī wichạy") adalah salah satu kemaharajaan bahari yang pernah berdiri di pulau Sumatera dan banyak memberi pengaruh di NusantaraLetak Kerajaan dengan daerah kekuasaan membentang dari Kamboja, Thailand Selatan, Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa, dan pesisir Sumber Kalimantan. Dalam bahasa Sanskerta, sri berarti "bercahaya" atau "gemilang", dan wijaya berarti "kemenangan" atau "kejayaan",maka nama Sriwijaya bermakna "kemenangan yang gilang-gemilang". BuktiKehidupan Politik awal mengenai keberadaan kerajaan ini berasal dari abad ke-7; seorang pendeta Tiongkok, I Tsing, menulis bahwa ia mengunjungi Sriwijaya tahun 671 dan tinggal selama 6 bulan.Selanjutnya prasastiKeadaan Sosial Ekonomi paling tua mengenai Sriwijaya juga berada pada abad ke-7, yang yaitu prasasti Kedukan Bukit di Palembang, bertarikh 682.Kemunduran pengaruh Sriwijaya terhadap daerah bawahannyaKebudayaan mulai menyusut dikarenakan beberapa peperangan di antaranya serangan dari raja Dharmawangsa Teguh dari Jawa pada tahun 990, dan tahun 1025 serangan Rajendra Chola I dari Koromandel,Keruntuhan Sriwijaya selanjutnya tahun 1183 kekuasaan Sriwijaya di bawah kendali kerajaan Dharmasraya
·         Rumusan Masalah
1.      Bagaimana kehidupan pada masa Kerajaan Kalingga dan Kerajaan Sriwijaya?
2.      Apa hikmah yang dapat kita pelajari dari belajar kehidupan pada masa Kerajaan Kalingga dan Kerajaan Sriwijaya?
·         Tujuan
1.      Untuk membantu mempermudah pembelajaran, serta melengkapi pematerian
2.      Kita bisa mengenal dan mengetahui sejarah Kerajaan Kalingga dan Kerajaan Sriwijaya
3.      Dapat mengetahui kehidupan pada masa Kerajaan Kalingga dan Kerajaan Sriwijaya
4.      Tugas Sejarah Indonesia






BAB II
PEMBAHASAN
1.     Kerajaan Kalingga
·         Kehidupan Politik
Pada abad VII Masehi Kerajaan Kalingga pernah dipimpin seorang ratu bernama Sima. Ratu Sima menjalankan pemerintahan dengan tegas, keras, adil, dan bijaksana. Ia melarang rakyatnya untuk menyentuh dan mengambil barang bukan milik mereka yang tercecer di jalan. Bagi siapapun yang melanggar akan mendapat hukuman berat. Hukum di Kalingga dapat ditegakkan dengan baik. Rakyat taat terhadap peraturan yang dibuat ratu mereka. Oleh karena itu, ketertiban dan ketentraman di Kalingga berjalan baik.
Menurut naskah Carita Parahyangan, Ratu Sima memiliki cucu bernama Sahana yang menikah dengan Raja Brantasenawa dari Kerajaan Galuh. Sahana memiliki anak bernama Sanjaya yang kelak menjadi Dinasti Sanjaya. Sepeninggalan Ratu Sima, Kerajaan Kalingga ditaklukan oleh Kerajaan Sriwijaya.

·         Kehidupan Ekonomi
Kerajaan Kalingga mengembangkan perekonomian  perdagangan dan pertanian. Letaknya yang dekatdengan pesisir utara Jawa Tengah menyebabkan Kalingga mudah diakses oleh para pedagang dari luar negeri. Kalingga merupakan daerah penghasil kulit penyu, emas, perak, cula badak, dan gading sebagai barang dagangan. Sementara wilayah pedalaman yang subur, dimanfaatkan penduduk untuk mengembangkan pertanian. Hasil-hasil pertanian yang diperdagangkan antara lain beras dan minuman. Penduduk Kalingga dikenal pandai membuat minuman berasal dari bunga kelapa dan bunga aren. Minuman tesebut memiliki rasa manis dan dapat memabukkan. Dari hasil perdagangan dan pertanian tersebut, penduduk Kalingga hidup makmur.

·         Kehidupan Agama
Kerajaan Kalingga merupakan pusat agama Buddha di Jawa.Agama Buddha yang berkembang di Kalingga merupakan ajaran Buddha Hinayana. Pada tahun 664 seseorang pendeta Buddha dari Cina bernama Hwi-ning berkunjung ke Kalingga. Ia datang untuk menerjemahkan sebuah naskah terkenal agama Buddha Hinayana dari bahasa Sanskerta dalam bahasa Cina. Usaha Hwing-ning dibantu oleh seorang pendeta Buddha dari Jawa bernama Jnanabadra.

·         Kehidupan Sosial dan Budaya
Penduduk Kalingga hidup dengan teratur. Ketertiban dan ketentraman sosial di Kalingga dapat berjalan dengan baik berkat kepemimpinan Ratu Sima yang tegas dan bijaksana dalam menjalankan hukum dan pemerintahan. Dalam menegakkan hukum Ratu Sima tidak membedakan antara rakyat dengan anggota kerabatnya sendiri.
Berita tentang ketegasan hukum Ratu Sima pernah didengar oleh Raja Ta-Shih. Ta-Shih adalah sebutan Cina untuk kaum muslim Arab dan Persia. Raja Ta-Shih kemudian menguji kebenaran berita tersebut. Ia memerintahkan anak buahnya untuk meletakkan satu kantong emas di  jalan wilayah Kerajaan Ratu Sima. Selama tiga tahun kantong itu dibiarkan tergeletak di jalan dan tidak seorangpun berani menyentuh. Setiap orang melewati kantong emas tersebut berusaha menyingkir.




2.     Kerajaan Sriwijaya
1.      Kehidupan Ekonomi
Dilihat dari letak geografis, daerah Kerajaan Sriwijaya mempunyai letak yang sangat strategis, yaitu di tengah-tengah jalur pelayaran perdagangan antara India dan Cina. Disamping itu, letak Kerajaan Sriwijaya dekat dengan Selat Malak yang merupakan urat nadi perhubungan bagi daerah-daerah di Asia Tenggara.
Hasil bumi Kerajaan Sriwijaya merupakan modal utama bagi masyarakatnya untuk terjun dalam aktifitas pelayaran dan perdagangan.

2.      Sosial
Kerajaan Sriwijaya karena letaknya yang strategis dalam lalu lintas perdagangan internasional menyebabkan masyarakatnya lebih terbuka dalam menerima berbagai pengaruh asing. Masyarakat Sriwijaya juga telah mampu mengembangkan bahasa komunikasi dalam dunia perdagangannya. Kemungkinan bahasa Melayu Kuno telah digunakan sebagai bahasa pengantar terutama dengan para pedagang dari Jawa Barat, Bangka, Jambi dan Semenanjung Malaysia.
Penduduk Sriwijaya juga bersifat terbuka dalam menerima berbagai kebudayaan yang datang. Salah satunya adalah mengadopsi kebudayaan India, seperti nama-nama India, adat-istiadat, serta tradisi dalam Agama Hindu. Oleh karena itu, Sriwijaya pernah menjadi pusat pengembangan ajaran Buddha di Asia Tenggara.

3.      Kehidupan Budaya
Menurut berita dari Tibet, seorang pendeta bernama Atica dating dan tinggal di Sriwijaya (1011-1023 M) dalam rangka belajar agama Budha dari seorang guru besar yang bernama Dharmapala. Menurutnya, Sriwijaya merupakan pusat agama Budha di luar India. Tetapi walaupun Kerajaan Sriwijaya dikenal sebagai pusat agama Budha, tidak banyak peninggalan purbakala seperti candi-candi atau arca-arca sebagai tanda kebesaran Kerajaan Sriwijaya dalam bidang kebudayaan.

4.      Kehidupan Agama
Kerajaan Sriwijaya merupakan pusat pertemuan antara para jemaah agama Budha dari Cina ke India dan dari India ke Cina. Melalui pertemuan itu, di Kerajaan Sriwijaya berkembang ajaran Budha Mahayana. Bahkan perkembangan ajaran agama Budha di Kerajaan Sriwijaya tidak terlepas dari pujangga yang berasal dari Kerajaan Sriwijaya diantaranya Dharmapala dan Sakyakirti. Dharmapala adalah seorang guru besar agama Budha dari Kerajaan Sriwijaya. Ia pernah mengajar agama Budha di PerguruanTinggi Nalanda (Benggala).





BAB III
PENUTUP
·         Kesimpulan
            Perkembangan kerajaan ho – ling selanjutnya tidak diketahui dengan jelas. Kemungkinan dipindahkan ke Jawa Timur. Ada satu berita dari China yang mengatakan bahwa ibukota kerajaan ho-ling dipindahkan ke Jawa Timur oleh Ki-Yen mungkin seorang rakryan, tapi sebab-sebab kepindahan tidak diketahui. Di Malang, Jawa Timur di desa Dinoyo ditemukan sebuah prasasti berupa angka tahun 760 M yang isinya mengenai pembuatan sebuah arca Agastya.
            Sedangkan Sriwijaya hanya menyisakan sedikit peninggalan arkeologi dan terlupakan dari ingatan masyarakat pendukungnya, penemuan kembali kemaharajaan bahari ini oleh Coedès pada tahun 1920-an telah membangkitkan kesadaran bahwa suatu bentuk persatuan politik raya, berupa kemaharajaan yang terdiri atas persekutuan kerajaan-kerajaan bahari, pernah bangkit, tumbuh, dan berjaya di masa lalu.
            Di samping Majapahit, kaum nasionalis Indonesia juga mengagungkan Sriwijaya sebagai sumber kebanggaan dan bukti kejayaan masa lampau Indonesia. Kegemilangan Sriwijaya telah menjadi sumber kebanggaan nasional dan identitas daerah, khususnya bagi penduduk kota Palembang, provinsi Sumatera Selatan, keluhuran Sriwijaya telah menjadi inspirasi seni budaya, seperti lagu dan tarian tradisional Gending Sriwijaya. Hal yang sama juga berlaku bagi masyarakat selatan Thailand yang menciptakan kembali tarian Sevichai yang berdasarkan pada keanggunan seni budaya Sriwijaya.
            Di Indonesia, nama Sriwijaya telah digunakan dan diabadikan sebagai nama jalan di berbagai kota, dan nama ini juga digunakan oleh Universitas Sriwijayayang didirikan tahun 1960 di Palembang. Demikian pula Kodam II Sriwijaya(unit komando militer), PT Pupuk Sriwijaya (Perusahaan Pupuk di Sumatera Selatan), Sriwijaya Post (Surat kabar harian di Palembang), Sriwijaya TV,Sriwijaya Air (maskapai penerbangan), Stadion Gelora Sriwijaya, dan Sriwijaya Football Club (Klab sepak bola Palembang), semua dinamakan demikian untuk menghormati, memuliakan, dan merayakan kegemilangan kemaharajaan Sriwijaya.
·         Sumber